Kupersembahkan Blog Ini Untuk Orang Yang Pernah Mendiami Relung Terdalam di Hatiku, "BINTANG"

Pages

Everything here is about you, my lovely star,

I'm sure that one day you will read this blog and give smile for this.

My love, here I am with all my feelings,

I hope the breath of your love always blow even just through the wind

My lovely breath,

Recesses of my heart always decorate by your beautifull face

My angel,

Fly here with the whole of your long vibration

My dear,

I love you.

Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Selamat Ulang Tahun Ke-19, Kasih..


Aku tidak tahu penyakit apa yang sesungguhnya telah menyiksaku tadi malam. Seolah ada ribuan batu tajam yang memenuhi dinding kepalaku. Seolah ada badai bergemuruh di antara ruang-ruang dalam jantungku yang kian berdetak tiada menentu. Aku benar-benar di dalam sebuah kekalutan yang aku sendiri tidak tahu penyebabnya.

Pagi ini, tiba-tiba aku teringat dengan sebuah peristiwa penting sekitar lima tahun yang lalu. Ketika itu adalah waktu pulang dari sekolah semasa SMP. Langit sedang panas, namun hatiku sedang sejuk tak ternilai. Langkahku sebenarnya sedang lelah, namun hatiku memberikan kekuatan yang begitu besar. Iya, saat itu aku berjalan bersama kekasihku.

Masih teringat jelas, dia memakai jaket berwarna orange. Sebuah warna yang menyegarkan segenap kekeringan di antara kerongkongan kerinduan. Aku sendiri memakai jaket berwarna hijau redup, mencerminkan sebuah proses kesembuhan, iya aku sedang sakit yang teramat saat itu. Kami selalu berjalan berdampingan. Alun-alun Kota Malang adalah tujuan kami.

Duduk di bawah pohon-pohon rindang yang kadang berguguran daun-daunnya. Sebuah pemandangan yang begitu memukau. Bagiku biarlah dedaunan itu berguguran sementara cinta sedang bersemi antara aku dan nafasnya. Senyumnya selalu mencairkan gumpalan-gumpalan emosi yang menyeruak di dalam dadaku, Dia begitu cantik di mata dan hatiku.

Seorang pengemis kecil mendatangi kami. Mungkin surga cinta yang sedang kami salami begitu dalam, sampai-sampai kami tidak peduli dengan pengemis tersebut. Sang pengemis marah dan mengotori baju kekasihku dengan guguran dedaunan. Aku pun dengan penuh sabar membersihkan daun-daun tersebut dari pakaian kekasihku hingga pengemis usil tersebut pergi.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah Plasa di Malang. AKu tidak tahu sebenarnya tujuan ke sana. Ternyata kekasihku mengajak berfoto di sebuah studio Foto Box. Mungkin untuk mengabadikan momen paling romantic selama hidup kami. Ada beberapa koleksi foto yang kami dapatkan. Biasanya kami simpan di dalam dompet. Namun kini foto-foto tersebut mungkin telah menjadi abu.

Aku tidak peduli apakah benar-benar menjadi abu ataukah tidak. Yang aku pedulikan hanyalah kobaran cinta yang terus menyala-nyala di dalam dadaku. Semuanya kupersembahkan untuknya. Setidaknya untuk kekasihku lima tahun yang lalu. Sekalipun dia mungkin tak peduli, tidak mengapa bagiku. Karena cinta yang tulus tak peduli dengan apa pun yang didapat.

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun Kekasihku yang ke-19, usia yang mungkin lebih  dewasa dari sebelumnya. Semoga dengan kedewasaannya sekarang, dia lebih mampu menghargai makna cinta. “Kekasihku, hingga detik ini dan entah sampai kapan, atau mungkin selamaya, aku selalu memanggilmu dengan kata kekasih. Karena tidak ada kebencian di hatiku untukmu. Cinta telah memenuhi seluruh jiwa dan hatiku untukmu. Selamat ulang tahun kasih, semoga suatu saat kau kembali bersinar.. Aku merindukan nafasmu, Bintangku...”

Jumat, 18 Januari 2013

Seputih Salju

Rasanya telah cukup lama tanganku tiada menoreh lukisan cinta dalam lembaran ini. Bukannya aku lelah untuk terus mengungkap segenap rasa yang membumbung dalam segenap asa. Aku hanya diam bertafakkur. Aku ingin apa yang kupersembahkan selanjutnya sanggup meruntuhkan puing-puing kebencian dalam prahara cinta.

Iya benar, aku telah terluka tersayat di tengah badai gelora. Aku hanya sanggup berdiri sejenak untuk berjalan tidak lebih dari sejengkal, kemudian terjatuh lagi. Tanganku pun membeku dan tiada lagi kuat menggenggam. Bibirku telah kering hingga tak mampu mengucap.  Namun aksara cintanya selalu tergambar jelas di dalam kedua bola mataku.

Ketahuilah, saat ini aku bagai di tengah gurun salju. Kembali kukatakan bahwa tangis kerinduan ini begitu dalam dan menusuk tulang-tulang dadaku. Bahkan jantungku pun rasanya sudah ingin berhenti berdetak. Dia hanya ingin cinta yang mengisi ruang-ruangnya. Segala macam kenangan bagai butiran-butiran yang terus saja berjatuhan di atas kepalaku.

Sambil terus merasakan sakitnya menggigil dalam dingin kerinduan, aku terus memandangnya dari kejauhan. Aku tiada membencinya, memang tidak ada ruang yang tersedia untuk sebuah kebencian. Yang ada hanyalah pandangan cinta dan kasih sayang. Aku selalu tersenyum sekalipun pedih yang terasa. Setidaknya aku tersenyum untuk canda tawanya.

Tiada peduli bagaimanakah dia saat ini menyiksa dengan seluruh perilakunya. Yang aku pedulikan hanyalah cinta yang tetap terjaga kemurnian dan kesuciannya. Iya, dialah cinta yang sejak lama mendiami relung dalam jiwa ini. Dialah kekuatan yang begitu berharga untuk setiap langkah. Tidak ada noda yang sanggup menutupinya barang setitik, karena cinta ini seputih salju.

Selasa, 15 Mei 2012

Aku Merasakan Kedamaian

Ada getar dalam setiap dawai di dalam jiwaku. Ada melodi yang mengalun merdu dalam setiap hirup nafasku. Ada bunga-bunga bersemi dalam setiap jalan yang kulewati. Ada desiran angin lembut yang menyibak rambut di keningku. Ada oase yang begitu bersih dan menyegarkan di tengah kehausanku. Ada sebuah pohon zaitun di tengah kegersangan rasa di dalam kalbu.

Engkaulah nada kasih yang selalu terpetik dalam benang halus di antara ruang-ruang hati. Engkaulah serangkaian suara penuh makna yang selalu bersaut-sautan mendamakan kepenatan di dalam setiap udara yang mengalir hingga ke seluruh syarafku. Engkaulah melati yang harum yang tertata rapi dalam diary rinduku. Engkaulah kesejukan yang selalu dinanti-nanti.

Engkaulah telaga tempatku membasuh segenggam syahdu. Engkaulah tempat berteduh saat terik menyiksa helai rambutku. Engkaulah secercah kedamaian yang selalu membungkus keresahan. Engkaulah cahaya cinta yang menembus gelapnya malam. Engkaulah daun-daun hijau yang menyenangkan mata. Engkaulah embun di saat aku melewati jalan setapak.

Jariku sempat terhenti menulis rangkaian syair untukmu. Lidahku sempat keluh tak mampu menyebut nama indahmu. Langkahku sempat gontai saat berusaha meraih tinta emas yang selalau kuperuntukkan bagimu. Suaraku sempat habis untuk selalu berteriak  menyebut kerinduan padamu. Air mataku pun telah mulai kering untuk menangisi keberadaanmu.

Tetapi tidak untuk hatiku, dia selalu membuka pintunya sekalipun kau tiada kembali. Bahkan gambaran wajahmu pun membuatnya semakin terbuka. Dia masih tertutup untuk siapa pun, sekalipun dia mengetuk dengan kepingan-kepingan mutiara. Dialah hati yang selama ini kau diami dalam relungnya. Dialah hati yang selalu melukiskan suara dan getar cintamu.

Tetapi tidak untuk jantungku, dia senantiasa berdegup untuk sebuah cintamu. Dia selalu menunggu kasihmu yang akan mengalir melalui setiap pembuluh darah, kemudian menuju ruang-ruangnya, untuk selanjutnya memberikan kekuatan pada jiwa dan ragaku, agar dia selalu mampu menyebut rindumu. Dialah jantung yang selalu memompa rasa ke seluruh sel dalam tubuhku.

Tetapi tidak untuk cintaku, dia selalu mengalun sekali pun tiada dawai. Dia selalu bernada sekali pun tiada yang memainkannya. Dia selalu terbang menuju angkasa kasih sayang sekali pun tiada bersayap. Dia selalu mengarungi lautan perih sekali pun tanpa bahtera. Dialah yang selalu bersinar sekali pun tiada lagi yang harus disinari. Dan dialah cinta yang selalu ada untukmu, kasihku.

Minggu, 01 April 2012

Maafkan Aku Bintangku

Sedikitpun aku tidak pernah berpura-pura dalam setiap gejolak kata yang mengalir di antara kedua sisi bibir tipisku ini. Bilakah aku sanggup mendusta sedang rasa cinta telah semakin menyiksa batinku. Maka akulah setitik debu yang tertiup angin. Dulu angin itu begitu lembut mengantarkanku menuju kedamaian. Namun saat ini angin itu telah lupa dan menerpaku dengan ganasnya.

Sedikitpun aku tidak pernah mengarang cerita untuk sebuah pujian. Karena cukuplah kata cinta darimu, pujaan hatiku untuk terus membuatku berjalan dalam syair-syair dan melodi kasih. Bilakah aku sanggup mengarang, sedang seluruh kata di dalam pikiranku hanya membentuk namamu. Dan dialah cinta yang tiada henti membuatku berteriak 

Setiap detik hatiku berteriak meronta. Ingin sekali rasanya bertemu denganmu. Aku tak sedang ingin membuatmu tersentuh atau apa pun saja sebutan untuk sebuah bualan belaka. Aku yakin hati lembutmu selalu merindukanku. Dan aku masih sangat yakin bahwa ladang cintamu selalu menungguku menggembalakan segenap getar-getar mesra dalam alunan setiap nada cintaku.

Bukankah aku tidak pernah berhenti menangis untukmu? Iya, aku selalu membanjiri setiap ruas jalan kehidupanku hanya dengan linangan air mata. Untuk siapakah air mata ini jika bukan untukmu? Bukankah kau dulu yang pandai menghapus air mataku dan mampu membuatku tersenyum bahagia?

Hai sahabatku, tahukah engkau sudah berapa lama aku mencintai dia? Enam tahun lamanya. Dan aku masih menjaga diriku untuknya. Sekali pun aku tahu dia sudah berkali-kali memberikan hatinya secara cuma-cuma untuk beberapa lelaki. Bukan beberapa, tapi banyak. Bukankah Tuhan Maha berkuasa untuk menyanggupkan mataku melihat setiap sudut tempat yang dilewatinya?

Aku tidak peduli bagaimana kamu berubah seperti itu. Karena cinta terus saja membutakan mata dan hatiku. Lalu membungkusnya dengan kain hitam. Yang pada kain hitam itu terlukis jelas wajahmu. Kemudian wajahmu kian hari kian terbenam dalam pada dinding-dinding hatiku.

Arin, aku tak ingin menyamarkan namamu lagi. Kata Bintang mungkin sudah bukan untukmu yang saat ini. Karena Bintang selalu bersinar untukku. Sedangkan kau saat ini justru tertutup semburan badai surya. Begitu panas menyiksa. Bintang hanya untukmu yang dulu selalu lemah lembut dan sopan perangai dan tata ucapannya.

Aku tidak tahu kekuatan apa yang mampu merubahmu menjadi sosok yang beberapa tahun ini begitu anehnya. Kadang aku berusaha menepis semua prasangka untuk terus saja mencintaimu sepenuh jiwaku. Tapi sepertinya kau sendiri yang semakin bermandikan lumpur pekat. hingga lumpur itu membuatku tak mampu lagi menyentuh. Bahkan untuk sekedar menyentuh hatiku sendiri.

Arin, maafkan aku harus menghapus semua kontakmu termasuk pertemanan pada situs jejaring sosial FB. Aku tidak sedang membencimu. Tiada kata benci dalam kisahku untukmu. Hanya cinta yang senantiasa menghias pita-pita merah penghubung hatiku padamu.

Aku tidak ingin jika rasa cintaku padamu berkurang karena aku melihat dan membaca status serta gaya bahasa smsmu yang sekarang. Karena yang kutahu bahwa Arin adalah perempuan shalihah, sopan dan lembut bicaranya, selalu menjaga diri bahkan untuk sekedar menyentuh lelaki. 

Sayangnya sosok Bintang yang begitu anggun itu tiada lagi tercermin pada jiwamu. Kau telah jauh melewati batas itu. Dan aku tidak ingin membencimu karena itu. Aku ingin selalu menjaga rasa cinta ini. Aku yakin jauh di alam sana, ruhmu senantiasa mengucap salam cinta untukku.

Maafkan aku.
Aku ingin selalu mencintaimu, Arin.

Rabu, 14 Maret 2012

Air Mata Siapa Tak Akan Terjatuh?

Pagi ini, angin begitu liarnya menerpa setiap helai daun, begitu pulalah badai rindu mengikis seluruh atmosfir yang melindungi hatiku dari kegundahan. Segenggam debu bertebaran ke seluruh arah terpisah tiada saling bertemu, begitu pula cinta yang selama ini kami genggam terburai tiada bersatu kembali barang setitik pun. Dedaunan kering saling berjatuhan seiring dengan kuatnya suara gesekan antar ranting yang terkena badai ringan ini, seperti itulah air mata bercucuran dengan kuatnya seiring dengan terjalnya jalan yang harus kulewati.

Aku tak sedang bersandiwara, aku tak sedang mengarang dan aku tak sedang membual. Aku tidak sekadar menulis, aku tidak sekadar menekan tombol-tombol yang berjajar di dalam keyboardku dan aku tak sekadar memandangi layar di depanku. Lebih dari itu, aku ingin menyalurkan seluruh buih rindu yang selalu saja membuat ngilu seluruh persendianku ke dalam sebuah barisan huruf indah. Seindah wajahnya kala mengucap cinta padaku dulu.

Tersebutlah Bintang sebagai nama indahnya yang selalu terbesit bayangnya dalam genangan mata air pada sebuah oase di dalam rinduku. Segenap kasih dan rintihan selalu bergema di dalamnya. Begitulah Bintang bak kemilau berlian yang menyilaukan setiap memata yang memandang kemudian menarik hati untuk menggenggam erat sinar cantiknya. Aduhai keluhnya lidahku untuk menyebut nama ini hingga aku hanya mampu menulisnya tanpa sanggup menggetarkan udara di sekitarku untuk membentuk aksara eloknya.

Sungguh cinta begitu tiada pandangnya menyiksa seluruh kulit, daging, tulang, syaraf dan seluruh organ di dalam tubuhku. Jika mereka sanggup berkata niscaya merekalah yang akan saling berteriak memohon untuk dikembalikan kepada masa 3 tahun yang lalu. Saat mereka teraliri nutrisi-nutrisi kasih sayang. Kemudian mereka saling bekerja untuk menciptakan surga di antara aku dan Bintang. Surga itu tiada kutemui kembali, karena mata air di dalamnya telah berhenti mengalir. Seluruh tumbuhan dan onta-onta telah mati. Hanya tinggal gurun yang begitu gersang.

Gersang sekali hingga setiap yang memandangnya akan ikut merasakan kehausan yang sangat. Begitulah air mata telah hampir kering yang biasa membasahi pipi yang dulu terbelai mesra lentik jari manisnya. Kelopak mataku mulai kering, korneanya begitu merah karena lelah, di sisi mataku tampak menghitam, dia jarang tertidur karena rindu selalu melarangnya untuk beristirahat. Suara pun telah semakin tidak jelas aksaranya ketika mengucap karena seluruh aksara telah habis untuk menyebutkan seluruh kisah di antara kai.

Siapalah tidak menetes air matanya jika mengetahui permata yang biasa disimpan kemudian dikanakan dan disentuh mesra oleh orang lain? Air mata siapa sanggup terbendung di antara cinta yang tersakiti? Suara siapa tiada berteriak sakit jika sang kekasih memberikan cintanya pada yang lain? Kekuatan siapa mampu menegakkan tulang punggung yang sakit menahan sakit yang begitu sangat? Tangan siapa mampu terus memegangi hati saat perih melanda?

Aku tiada mengungkapnya dalam lisanku, sekali lagi karena aku sudah kehilangan segala suaraku untuk sekedar mengumandangkan kidung-kidung berandakan sika. Aku hanya mampu membayangkan suara-suara indah yang pernah ada. Aku hanya mampu memandang tanpa jelas apa yang sebenarnya kupandang. Dan aku hanya mampu menulis tanpa berkomentar apa yang akan orang katakan. Di hatiku hanya da namanya yang terus saja mendorongku untuk terus menorehkan tinta di atas kanvas putih.

Selalu menahan sakit, beginilah keseharianku. Betapa cintalah yang membuatku begini, rasa sakitnya begitu pekat hingga aku tak mampu mencarikannya dengan unsur apa pun. Rasa perihnya begitu menyayat sedang aku tak menemukan satu kasa pun untuk membalutnya. Sakit yang begitu hebatnya selalu menerjang tulang dadaku untuk kemudian menusuk rongga di jantungku, membocorkan seluruh darahku, menghentika aliran darah dalam setiap pembuluh hingga membuatku kesulitan untuk bernafas. Dan aku sangat membutuhkan nafasnya untuk sekadar membuka mataku yang kian sayu. Karena aku begitu mencintai ruh cinta kekasihku.

Suatu Malam Aku Bermimpi

Lembahyung malam tampak menutupi segenap cahaya kemilauan berwarna jingga. Hangatnya senja terganti tiupan dingin sang bayu. Aku tak menyangka malam itu aku akan terlelap dalam kesendirian. Aku tak pernah mengira bahwa malam itu akan terlewati dengan genangan air mata. Dan aku tiada menduga bahwa malam itu akan terhiasi suara parau tangis kehilangan.

Mungkin kehilangan untuk selamanya. Aku harus berteriak dengan sekuat-kuatnya suaraku. Ketika sudah tak mampu lagi, hatikulah yang terus meronta hingga seolah ada batu besar menerobos ruang-ruang jantungku yang hanya terdiri dari dua bilik dan dan dua serambi, sedang batu itu sebesar gunung. Apalah daya fisikku yang kecil untuk menahan beban sebesar itu.

Iya, malam itu aku harus benar-benar sendiri. Dingin sekali, namun tak sedingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang dadaku. Setebal apa pun selimut yang kukenakan, dia tak mampu menahan barang sedikit pun angin rindu yang kian merangsek merampas segala ketenanganku. Sekali lagi aku tak pernah menduga bahwa aku akan kehilangan kekasihku yang paling kuagungkan.

Tampaknya aku kelelahan menahan sakit yang menghujam syaraf-syaraf dalam setiap jaringan tubuhku, hingga aku terlelap dalam sebuah ombak badai di malam itu. Aduhai Tuhanku, aku melihat kekasihku berbaju putih. Dia tersenyum manis, pipinya terangkat dan matanya menyipit. Cantik sekai, namun tampak pucat dan bibirnya kering. Melambaikan tangan dengan berkata pelan.

"Walaupun raga kita jauh, aku tetap di hatimu. Yang pergi darimu bukanlah aku. Karena aku telah benar-benar mengabdikan cintaku padamu. Aku masih kekasihmu, jika kau merindukanku, maafkan aku hanya bisa memberi warna dalam cintamu. Pandangilah aku dengan cintamu dan jangan pernah membenciku. Aku sedang terjebak dalam emosiku. Sungguh aku sangat mencintaimu. Tetapi nafsuku menuntut untuk mencintai yang lain. Sayangku, itu bukan aku. Aku selalu di hatimu. Sebutlah namaku jika kau sakit, jika kau haus, jika kau lapar. Aku akan merawatmu, menyuapimu dan menemanimu dengan segenap bayangku. Selamat tinggal kasihku, semoga ruh cintaku akan menemuimu kelak di sana. Karena nafsu telah menguasai seluruh ragaku. Biarlah tubuhku bersama yang lain asal cinta selalu utuh untukmu. Selamat tinggal cinta pertamaku, aku benar-benar mencintaimu.."

Begitulah dia berbicara seraya terisak jua. Aku terbangun oleh suara Qiro'ah Syeikh Muammar yang kian menambah pedih hatiku dengan lagu shoba yang masih terdengar sampai aku benar-benar bangun dan mengusap air mataku yang tiada keringnya. Mungkin mimpi ini benar, karena hingga saat ini aku terus saja merasakan getar hangat cintanya. Masih saja mencium wangi keringatnya, masih saja mendengar suara indahnya.

Jika aku lapar, aku menyebut namanya. Jika aku haus, aku menyebut namanya. Jika aku sedih aku mengadu padanya. Jika aku sakit aku selalu mengingatnya. Sekalipun dia tiada. Biarlah halus ruh cintanya yang selalu menyertai seluruh kesadaranku. Biarlah biar dia tiada lagi, asal cinta selalu mewarnai hati ini. Aku tiada pernah membencinya. Biarlah bahagia dia bersamanya. Dan aku bahagia bersama ruh cinta kekasihku.

Senin, 27 Februari 2012

Dua Puluh Delapan Pebruari

Kali ini lidahku keluh untuk terus menyanyikan kidung-kidung cinta. Tapi hatiku tak pernah lelah untuk menyangga beban rindu seberat ini. Tanganku telah kaku untuk mencari genggam kasih, namun ia tak pernah letih untuk terus menuliskan bait-bait kerinduan. Terus saja mengalir dan mengalir seluruh arti cinta yang tersimpan dalam ruangan yang kini gelap gulita. Ruang itu sedang terkunci rapat. Tiada yang bisa membukanya, karena satu-satunya kunci telah dibawa oleh seorang gadis.

Aku tak pernah tahu di mana dan bagaimana gadis itu sekarang. Yang aku tahu cintanya selalu terlukis indah di langit-langit rasa cintaku. Seperti pelangi yang indah, bagaikan gugusan bintang yang tersusun rapi, bagaikan aliran sebuah telaga yang bergemericik merdu. Begitulah cinta, ia benar-benar sudah menyelubungi seluruh dinding luar pembungkus perasaanku. Kemudian darinya meresap rasa rindu hingga ke dalam ruang cintaku, untuk kemudian membuatku kedinginan tanpanya.

Seorang gadis, Bintang namanya. Bergetar seluruh syaraf-syaraf dalam tubuhku ketika mengingat dan menyebutnya. Bahkan hingga rasa nyeri yang sangat mengenai seluruh persendian tulangku kala merindukan tiupan-tiupan halus dari suara cintanya. Kadang aku sampai bingung bagaimana menceritakan rasanya. Ini hanya sedikit gambaran, betapa badai kerinduan meluluh lantahkan seluruh pondasi dan pilar-pilar kokoh yang menegakkanku sehingga tetap mampu melihat ke depan.

Sayangnya aku harus terlempar jatuh ke belakang dan mataku tertuju pada sebuah klise hitam putih bergambar tatapan indah matanya yang berbinar-binar. Senyum dari bibir tipisnya yang begitu mempesona. Aku dibuat tak sadarkan diri oleh seluruh harapan-harapan yang lalu. Aku tahu jika aku harus sadar, namun aku tak pernah kuasa kembali bangkit. Rasanya aku memang harus tertidur bahkan mati sampai ia datang untuk menaruh mutiara di atas dadaku untuk kemudian membuatku sadar menangis terharu karena kedatangannya.

Saat ini ada sebuah bayangan yang mengendap-ngendap di balik jendela hatiku. Siapalah dia jika bukan rasa rindu yang selalu kusebut dalam setiap tulisanku. Kerinduan inilah yang selalu membuatku terus menggali khasanah cinta. Kubiarkan saja walau kadang menyesakkan paru-paru dan lekukan tenggorokanku, hingga aku kesulitan bernafas. Tiada gunalah oksigen dari seorang penyembuh, karena dialah cintaku yang menjadi nafas sejatiku.

Baik, saatnya aku berkata sesuatu. Di saat yang lalu aku telah menorehkan sebuah tinta menjadi himpunan kata mengenai tempat-tempat kenangan yang terus saja menggerus seluruh selimut dalam dadaku. Bahkan kemeja bergarisku kini telah terkikis, sehingga kulit memar membiru terlihat jelas, mungkin karena luka yang sangat dalam menghujam tulang dada dan rusukku. Masih ingatkah sahabat tulisanku yang lalu, Kenangan Biru Putih ??

Iya, di sana ada dua angka yang terlewatkan. Bukan terlewatkan, memang sengaja kusembunyikan. Karena angka ini kusiapkan untuk tulisanku kali ini. Angka dua dan delapan, gabungan kedua angka ini --28--, merupakan tanggal kelahiran kekasih tiada tara, gadis yang tajam pelangi dalam bola matanya, yang nafasnya tiada terlupa, yang suaranya masih saja terdengar mesra di sudut sana. Dua puluh delapan Pebruari, saat ini dia berulang tahun.

Iya, kekasih hatiku lahir pada 28 Pebruari 1994, bertepatan dengan  dengan 17 Ramadhan 1414 H atau 1926 Tahun Jawa. Mungkin hanya aku yang tahu kelahirannya sampai sedetail ini. Bertepatan dengan peringatan Nuzulul Qur'an, turunnya sebuah mu'jizat. Dia pun bagai sekumpulan mutiara hikmah yang diturunkan bagai hujan saat musim kering melanda hamparan kebun-kebun kasih sayangku.

Jika demikian, saat ini dia telah berusia 18 tahun. Aku tidak pernah percaya bahwa sudah sekitar 4 tahun aku terus saja mengalirkan rasa citnaku untuk sebuah bayangannya. Karena saat ini memang hanya tinggal bayangnya. Aku tak mampu menyentuhnya dengan jemariku, maka biarlah hatiku meresapi setiap kesatuan titik yang membentuk lukisan wajah manisnya.

Setiap tahunnya aku mengucapkan selamat ulang tahun 2 kali, pertama ulang tahun berdasarkan masehi, kedua adalah berdasar tahun hijriyah. Siapakah yang telah mampu menandingi betapa sedetail itu aku sedang memperhatikannya? Aku sangat yakin dengan segala rasa yang terhimpun, jika hanya aku yang sanggup. Begitulah cinta menguatkan seluruh syaraf-syaraf  kesan kasih dalam segenap degup jantung dan aliran darahku.

Semenjak saat aku harus berpisah dengannya, setiap tanggal 28 Pebruari, kuletakkan sebuah foto pemberiannya dulu di depanku. Ini foro pertama yang ia berikan kepadaku. Sebenarnya yang kedua, hanya saja yang pertama belum sempat aku melihatnya, tapi jatuh dan hilang. Dia memberiku dengan menyelipakannya pada sebuah buku berwarna hijau, jika tidak salah buku fisika.

Mungkin foto itu terjatuh di dekat air mancur di depan kelasnya saat aku berlari bahagia karena bisa memiliki lukisan wajah cantik dengan segenap rona kasih sayangnya. Akhirnya dia memberikan sebuah foto lagi yang sampai kini kusimpan. Kuhias dengan bingkai kertas bergaris warna putih. Garisnya begitu lurus seperti lurusnya niatku untuk selalu menunggunya. Warnanya putih, seputih kain-kain yang membungkus cintaku khusus untuknya.

Dalam foto itu dia melirik ke kanan, kuletakkan di posisi seolah-olah dia sedang melirikku sambil tersenyum. Kuletakkan sedikit lebih tinggi dari tempatku bersimpuh. Dia sedang memakai jilbab berwarna biru tua dengan baju putih. Di sebelah krinya ada bantal berwarna merah muda dengans sedikit hiasan merah putih dan kuning. Sepertinya bantal ini pernah dipasangkan pada kepalaku saat aku tertidur di ruang tamunya.

Aku berdiri dengan ditopang kedua lututku, membawakan setangkai mawar merah di depan foto kekasihku itu. Sebelum mampu berucap kata, air mataku telah terlebih berjatuhan membasahi lantai. Kadang harus menunggu lama sekali untuk berhentinya tangisku yang memang tidak akan berhenti, sampai aku mampu berkata.

"Kekasihku, aku sadar bahwa aku tak kan pernah lagi kau tatap mesra seperti ini. Aku sadar bahwa jemari ini semakin jauh dan tak mungkin lagi mendapat hangat genggam halus sela jari dan telapak tanganmu. Aku sadar bahwa kian waktu kau semakin jauh dan bahkan setitik pun aku tak mampu lagi menjumpaimu. Aku sadar bahwa tiada lagi rasa itu skedar untuk membasahi kerongkonganku yang benar-benar haus ketika harus berdiri menantimu di tengah padang pasir yang sangat gersang, sementara hatiku terpenjara pada lautan salju, begitu dingin menusuk."

Terdiam sejenak, aku bagai terhipnotis. Aku merasakan harum nafasnya. Seperti terbawa dalam alam lain, aku terasa menjumpainya dalam kegelapan. Aku melanjutkan kembali untuk terus berkata pada fotonya, "Namun aku sudah cukup meresapi segenap kehangatan kasih sayangmu dengan melihatmu dalam gambar ini, aku merasa cintamu telah hidup kembali, aku bagaikan tertarik ke dalam dimensi 3 tahun yang lalu, saat aku memakai baju putih, tertidur di depanmu kemudian kau tertawa melihatku. Aku merasakan kedekatanmu duhai kasihku. Sangat dekat sekali. Duhai bidadari yang selalu memancarkan bayangan cinta, saat ini aku tak mampu membendung seluruh hempasan mata air penuh jeritan dari kelopak mataku. Tiadalah kau dengar aku menjerit sementara kau sedang tertawa dengannya. Aku tak peduli, karena aku telah menemukan arti cinta itu sendiri."

"Duhai sang perebut cinta dalam hatiku, yang engkau tiada kembali lagi, aku selalu melakukan ini setiap hari kelahiranmu, kembali aku tak peduli ada atau pun tidaknya dirimu, karena kerinduan ini selalu terhiasi kupu-kupu yang biasa beterbangan di antara kita berdua. Selamat ulang tahun duhai kekasihku. Semoga selamat dan sejahtera seluruh jiwa dan ragamu. Selamat ulang tahun kasih. Maaf hari ini aku tak mengucapkannya langsung padamu, karena aku masih ingat kata-kata menyakitkan terakhirmu -Jangan tunggu, ganggu, atau apa pun padaku- Maka biarlah aku mengucapnya pada Bintangku yang dulu, yang sekarang ada di depanku ini."

Minggu, 19 Februari 2012

Kabut di Kala Terang

Rasanya tidak ada satu tempat pun, tidak ada satu detik pun, tidak ada satu kejadian pun, tidak ada satu centi jalan pun, tidak ada satu lagu pun, yang tidak mengingatkanku pada satu masa. Yang masa itu terhiaskan senyuman-senyuman indah, terhiaskan kebahagiaan dan ketenteraman. Yang waktu itu duniaku begitu berwarna oleh biasan cahaya-cahaya pelangi. Pelangi itu warnanya begitu jelas, merah kuning hijau biru jingga ungu dan warna-warna turunannya. Begitu pulalah jelasnya warna-warni cinta yang berputar-putar mengelilinga samudera kerinduanku untuk kehadiran sebuah puteri yang baik perangainya.

Beginilah hari-hariku terus dibayangi oleh klise kenangan yang begitu memukau. Hari penuh angan-angan kosong dan harapan tak jelas ujungnya. Berharap bidadari itu kembali untuk sekedar mengucap salam dengan harum lembut seluruh cintanya. Setiap mengingatnya, aku memang terdiam saja. Seolah tiada apa-apa. Seolah aku tak pernah mengalami sederet kenangan apa pun. Di balik itu semua, jika kau melihat bahwa aku sedang benar-benar menjerit. menjerit dengan seluruh daya suaraku. Bahkan mungkin sampai tiada tersisa suaraku. Aku sedang loncat ke atas dengan tangan mengepal menahan duka yang sangat. Gerakanku tak jelas arah, saat ini tubuhku bagaikan dililit oleh rantai besar, kemudian aku diikatkan pada sebuah tiang besi. Tahukah kalian? pada tiang besi itu dialirkan arus listrik dengan kekuatan megawatt.

Maka kalian akan mendapatiku berteriak memohon untuk dilepaskan dari belenggu ini. Tetapi teriakan parauku tiadalah berguna. Karena pengikatnya telah pergi entah ke mana. Mungkin sedang berbahagia tertawa di sana. Saat ini seluruh dayaku telah terkuras habis. Bahkan untuk sekedar meneteskan air mata pun aku telah lelah tak kuasa. Untuk sekedar mengucap namanya kadang lidahku keluh. Sekalipun dalam hatiku terus bergejolak nama indahnya, Bintang.  Ini bukan berarti aku lelah untuk terus saja mencintainya. Karena bagiku dia selalu ada dalam istana cintaku. Hanya saja aku tak mampu melihat dan menggenggamnya.

Tadi pagi, kira-kira pukul 09.00 aku mencari sarapan di tempat favorit. Ketupat sayur, letaknya di depan cucian mobil Witjaksono. Di sebelah utara jalan, terlihat usang, namun tidak begitu dengan cintaku yang terus saja bersinar kemilauan seperti pantulan mentari dari ribuan tetes embun. Bagaikan berlian yang terhimpun, cinta begitu menyegarkan mata dan hati. Di depan aku melihat kedai bubur Kayungyun, teringat aku dulu pernah membawakan bubur ini saat kekasih hatiku sedang sakit. Rupanya dia senang sekali dengan bubur ini. Aku sempat menyuapinya untuk terakhir kalinya dengan bubur ini di rumah lamanya.

Duhai Rabbku Sang Pencipta Cinta yang Maha Agung, bilakah aku dibiarkan tenggelam pada kabut di kala terang ini. Bilakah aku dibiarkan untuk menguras air mata yang sudah tak mampu menetes. Bilakah aku harus berteriak sementara seluruh suaraku telah habis. Bilakah aku tetap gontai dan terjatuh sementara aku kesulitan berdiri. Duhai Penciptaku dan Pencipta ruh kekasihku, jika ini memang harus selalu kualami dalam setiap nafas yang terhirup dan terhembus, dalam setiap darah yang mengalir, dalam setiap degub irama jantung serta langkah layuku, maka berilah aku kekuatan. Kemudian abadikan kisah ini menjadi sebuah hikayat yang teramat agung. Biarkan kekasihku berada dalam bahagia, jagalah dia, jangan biarkan air matanya menetes, jangan biarkan mimik wajahnya cemberut, sekalipun dia terlihat cantik saat cemberut. Karena dia begitu berharga, Tuhanku.

Kamis, 26 Januari 2012

Siang Ini Aku Cemburu

Begitu terik, angin menerpa dengan kuatnya. Fatamorgana terlukis bagai bunga mimosa yang menari di sela sejuk musim semi. Debu-debu beterbangan tanpa arah yang jelas, seperti ketika perasaanku hancur tertiup kebencian. Sebenarnya aku tak pernah membenci, hanya saja kenyataan cinta melukaiku. Daun-daun pohon buah nona saling bergesek menambah suasana panas semakin berdesakan menempa jantung yang berdegub melemah.

Angin hari ini begitu kerasnya, sampai-sampai mataku tak mampu memandang ke depan dengan leluasa. Namun lebih dari itu, perih dalam jiwaku bahkan sampai membatasi kata-kata dalam hatiku. Untuk sekedar memahami arti angin itu sendiri pun dia tak mampu. Begitu pula dengan pancaran sinar matahari kali ini yang begitu menyengat, karena akibat badai matahari yang mulai mendobrak atmosfir bumi sejak beberapa hari yang lalu, ia begitu ganas menumbangkan pepohonan. Melebihi dari itu, hatiku saat ini terbakar ribuan kali lebih panas. Bahkan badai cemburu ini seakan mampu menumbangkan kekuatanku sebagai seorang kesatria yang dengan kedua kakiku mampu berlarian di gurun sahara tanpa selembar alas kaki pun. Saat ini seluruh bagian tubuhku menjadi layu seperti seorang darwis hendak menjemput kematiannya.

Iya, aku sedang cemburu. Mungkin burung-burung kecil yang saat ini bersaut-sautan di dalam sarang sedang menyanyikan lagu duka cita yang dalam untukku. Sebuah pohon nagasari yang menjulang tinggi di antara juluran-juluran tali cahaya malam, dialah tempat sang burung mengintip di balik daun-daun hijau tua, mungkin mengintip induknya yang belum kembali. Tetapi pandangannya tertuju pada linangan air mata di pipi dan sisi bibirku. Memandangnya, aku merasa ditanya "Gerangan apakah tuan tersedu berduka?"

Ketahuilah kawan, aku sedang tersiksa oleh cemburu yang begitu berkobar-kobar untuk segera menghabisi tunas-tunas kerinduan yang kian hari kian bertumbuhan. Baru saja aku melihat sosok wanita yang begitu mirip wajahnya dengan pujaan tertinggi istana cintaku. Giginya, jilbabnya, keningnya, punggungnya, bahkan senyumnya. Seorang lelaki sedang memakaikan penutup kepala di depannya. Kepalaku bagaikan dipenuhi dengan batu-batu yang telah dipecah, yang sisi-sisinya telah menjadi sangat tajam. Kemudian batu-batu itu terus bertambah jumlahnya, lalu dia berusaha untuk menembus tulang tengkorak dan kulit pembungkus kepalaku.

Aku tahu bahwa itu bukan Bintangku, tetapi kebutaanku terhadap segala sesuatu telah menyulut api cemburu di dalam rongga dadaku. Api itu menembus bahkan sampai kulit dadaku hingga hitam bagai arang tersiram minyak jarak. Benar-benar sakit. Mungkin kau akan mengatakan bahwa aku gila. Iya benar, dialah cinta yang telah jauh merangsek merebut segala kerinduanku dan kini ia telah semakin membumbung tinggi untuk memusnahkan segala asa selain makna cinta itu sendiri. Dialah rasa yang kian hari kian menyayat-nyayat sebongkah hati yang sudah membiru. Aku memang sedang gila, namun gilaku jauh di atas singgahsana sang pangeran cinta yang berulang kali melejitkan anak panahnya ke arah timur. Berharap sang putri mengambilkan anak panah itu kemudian meletakkannya pada sebuah bejana berhiaskan zamrud kepada sang pangeran.

Duhai Tuhanku, aku tak pernah tahu kapan aku akan sembuh dari ketidak sadaranku. Bahkan aku sudah menganggap apa yang baru saja kulihat hanyalah sebuah bayangan atau tidak lebih seorang Qorin. Namun kerinduan yang sangat semakin mengobarkan api cemburu ini. Aku tidak pernah tahu harus pergi ke mana untuk mengadu. Tuhanku, kumohon siramlah api ini dengan air mata dari telaga kautsar, gantikan debu-debu usang menjadi penyubur ketenangan batinku yang sudah luas tumbuh. Yang hampir saja menutup kegersangan ini. Tuhanku, saksikanlah bahwa seluruh kerinduanku masih berdiri kokoh menghadap bayangnya. Tuhanku, aku mencintainya.

Minggu, 25 Desember 2011

Senja di Coban Rondo

Kemarin, Sabtu 24 Desember 2011. Hati resah, pikiran penat, jiwa terombang-ambing. Ada sesuatu yang sedang saya pikirkan. Saya ingin pergi jalan-jalan untuk sekedar me-refresh otak. Sebenarnya tidak ada rencana ke Coban Rondo. Tiba-tiba saja ide tempat itu muncul ketika dalam perjalanan. Ditemani seorang sahabat baik saya pun melaju menuju Coban Rondo. Saya tidak pernah sendiri jika mengunjungi tempat-tempat kenangan. Karena beberapa kali hampir pingsan saat mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Sebenarnya dalam hati terbesit ingin ke Waduk Solorejo. Karena melihat hamparan air itu membuat saya senang. Tetapi beberapa bulan yang lalu saya sudah ke sana dengan sahabat saya yang lain. Lagi-lagi dengan kawan karena takut terjadi apa-apa jika sendiri. Dan memang benar, ketika di Soloreja waktu itu, saya mengalami pusing kepala yang luar biasa.  Cuma karena ada teman bicara, jadi lambat laun kepala saya berangsur nyaman. Sebenarnya menceritakan Waduk Solorejo lebih indah dan romantis. Tapi lain kali saja saya ceritakan.

Sabtu, 17 Desember 2011

Aku Manusia Biasa

Dari catatan Facebookku pada 18 November 2011 jam 21:40

Duhai cinta yang terus bersemayam dalam hati, tidak lelahkah engkau dengan setiap pertanyaan yang  selalu terlontar keras di balik air mataku? "Kapan engkau berhenti menyirami keringnya batinku? Sedang air suci yang kau siramkan kini mata airnya bukan milikku?"


Aku sebenarnya terlalu malu untuk menulis ini kawan, tapi aku tak punya pilihan. Andai ada ibu, mungkin sudah kutumpahkan segala lara yang terus menyayat-nyayat daging jantungku. Biar ibuku mendengarkan dengan kasihnya. Tak perlu kau sampai membacanya.

Doa Untuk Kekasih


Dari catatan Facebookku pada 5 Mei 2011 jam 23:02
“Aku berlindung kepada Allah terhadap setan, dari tiupan, bisikan dan godaannya”
(HR. Abu Dawud I/203, Ibnu Majah I/265, Muslim dari Ibnu Umar I/420)

“Ya Allah, dengan nama-Mu  aku  mati dan dengan nama-Mu pula aku hidup (kembali).” 
(HR. Bukhori dalam Fathul Baari XI/113, Muslim IV/2083)

“Maha Suci Engkau ya Allah aku memuji-Mu, Maha Suci pula nama-Mu, Maha Tinggi Kebesaran-Mu, dan tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Engkau”
(Ash-haabus Sunan Al-Arba’ah)

Duhai kasih


Dari catatan Facebookku pada 14 April 2011 jam 7:28

Kadang u/ merasakan ni'matnya cinta
Harus terdera tersayat
Harus terkhianati
Harus tersakiti
Harus melihatnya tersenyum tertawa
Harus melihatnya bercanda memanja
Bersama kekasih yg lain

20 Tahun Berselimut Kabut


Dari catatan Facebook pada 24 Januari 2011 jam 8:13
Aku berlindung kepada Allah Ta’ala dengan kalimat-Nya yang sempurna dari gangguan syaithan dan Hammah (sesuatu yang mengandung racun) dan dari setiap mata yang jahat.(HR. Bukhori)

Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya tidak aka nada sesuatu yang dapat membahayakan di bumi maupun di langit dan Allah Maha mendengar lagi Maha penyayang.” (HR. Abu Dawud IV/323, At Tirmidzi V/465, Ibnu Majah dan Ahmad)

Shalawat nan salam semoga selalu terlimpah curahkan pada junjunganku, sang pelipur lara atas segala sesak di dadaku. “Ya Tuhanku, muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad Nabi yang ummi dan akan keluarganya.” (HR. Abu Daud dari ‘Uqbah bin ‘Amir)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More